| 1 Stop To Find Best Malaysia Hotel Rates | |
![]() |
Compare 40 top travel sites at once at WuTravel.com |
| Johor Bahru | Kuala Lumpur | Langkawi | Penang | Petaling Jaya | |
Isnin, 30 Julai 2007
Garis Besar Penerapan Dinar Emas
oleh Umar Ibrahim Vadillo
Pengantar
Langkah yang paling nyata dalam kemajuan kini adalah pulihnya sistem kewangan nyata dan mentiadakan secara berturut-turut kertas cetakan simbol wang dan wang rekaan yang dimanipulasi dalam pasar spekulasi serta perjudian pasar saham. Dinar emas dan Dirham perak telah diterima secara universal sebagai alat tukar selama ribuan tahun dan mula dikenali semula sebagai jalan menuju kewarasan, kewajaran dan kejujuran. Secara serempak, e-Dinar yang didukung sepenuhnya oleh emas secara fizikal sama dengan yang ada dalam peredaran, rumusan pelaburan untuk perdagangan (Qirad), bagi hasil untuk kerja penghasilan (Syirkah) dan bentuk terpercaya perwakilan dengan keuntungan wajar (Wakala dan Qafilah) akan menyertai pemulihan Perdagangan Islam. Akibat dari proses ini pasti sangat banyak, kita akan dapatkan kembali Blok Perdangangan Islam dengan wang sejati, Dinar Emas Islam atau Dirham Perak. Kemudian, bersatunya Ummat Islam, terbentuknya kembali keseimbangan kekuasaan di dunia, akhir dari penguasaan dollar dan berakhirnya oligarki para jutawan dan billionir, tapi menguntungkan orang miskin tika ini dan gerak-maju yang berpihak pada masyarakat, bukan koperasi. Kami menginginkan kontribusi dan menjadi sebahagian dari perubahan sejarah dengan selalu memberikan berita-berita relevan dan tulisan menarik, dokumen dan riset mengenai subjek ini.
Ringkasan
Menghidupkan kembali Dinar Emas sebagai alat tukar dalam kerangka blok Perdagangan Islam akan menjadi kemungkinan bila:
1. kita tidak menyerahkannya pada konsensi politik
2. kita berpegang pada pengaplikasian dan program berfungsi yang diarahkan untuk memperkuat perdagangan melalui mekanisma inti moneter
3. kita mendapatkan dukungan dari negeri-negeri Muslim seperti Malaysia Pengajuan Kami
Memulakan program ketika ini juga. Kita memerlukan Mekanisma Inti Moneter dan setahap demi setahap menambahkan fungsinya. Mekanisme Inti Moneter terdiri dari: Fisik Dinar dan Dirham, dengan sistem pembayaran elektronik (e- payment ) yang didukung oleh emas, disebut juga pengoperasian e-dinar. Pasar Islam yang nyata, dengan pasar elektronik (e- market ) yang menggunakan sistem pembayaran e-dinar, kontrak Qirad untuk investasi perdagangan, dengan layanan audit on-line e-qirad yang memungkinkan investor berhubungan langsung dengan para pedagang.
Kunci Pertimbangan
Menghidupkan alat tukar Syariah, Dinar dan Dirham, sebagai permasalahan politik utama yang dihadapi Ummat Islam hari ini akan lebih berat dari permasalahan politik lainnya.
1. Dinar dan Dirham Islam, kerana menguntungkan bagi setiap Muslim, merupakan kebijaksanaan politik terdepan bagi politik penyatuan Muslim tika ini. Penggunaannya oleh Muslim akan mempercepat pembentukan blok Perdagangan Islam berdasarkan alat tukar Islam Universal.
2. Dinar dan Dirham Islam akan mewujudkan aspirasi penegakan " Dar ul-Islam " yang tidak dapat dicapai oleh metod ekonomi atau politik lain.
3. Dinar dan Dirham untuk sementara harus dipisahkan dari proses politik disebabkan institusi politik belum memungkinkan untuk menerimanya pada saat ini.
4. Di sisi lain, alat tukar tidak dapat dipisahkan dari perdagangan. Menghidupkan kembali Dinar Islam harus secara serempak diiringi oleh pembangunan kembali Perdagangan Islam. Perdagangan Islam mewakili paradigma baru yang menentang dan menggantikan nilai, institusi, instrumen dan model dari ortodoksi ekonomi-masa-kini.
Bagaimana Menjalankannya
Kita mengajukan alat tukar berasaskan emas untuk perdagangan berisiko-rendah dan berbiaya-rendah yang setara dengan wang kertas yang beredar. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana untuk memperkuat peredaran wang emas dan perak. Yang paling utama adalah kita menyediakan sistem pembayaran elektronik yang dapat memfasilitasi transfer dan perdagangan dengan Dinar Islam. E-dinar mewakili pembayaran elektronik pertama berasakan Dinar Islam, yang 100% didukung oleh fizikal emas dan menyediakan kemudahan dalam transaksi via internet. Hemat, nyaman dan kecepatan transaksi menjadikannya lebih unggul dari berbagai bentuk perbankan moden. Penggunaan Dinar Islam secara moneter akan lebih baik bila didukung terlebih dahulu melalui pengenalan terhadap inti tujuan Islam, khususnya untuk pembayaran Zakat dan Mahar. Seiring dengan itu, penggabungan dengan pasar elektronik yang sudah ada dan instrumen investasi berdasarkan-qirad baru untuk mengembangkan penggunaannya dalam perdagangan, sehingga membalikkan aliran-wang dari wang yang terjadi hari ini menjadi aliran-wang dalam perdagangan. Pengintegrasian terancang antara e-dinar dengan e-market dan sistem e-qirad yang baru dibangun sangat membantu kembalinya investasi Muslim bagi perekonomian Islam. Untuk memfasilitasi pengenalan dan peredaran Dinar Islam dan penggunaannya dalam perdagangan, diawali oleh satu negeri yang menerima Dinar Emas Islam sebagai legal tender . Hal ini akan mengembangkan jangkauan globalnya dan akan membuka kemungkinan melakukan kontrak dagang dengan satuan hitung Dinar Islam. Pembangunan blok-bangunan yang menjadi tempat pencetakan dan pengedaran syiling emas dan perak, pengembangan sistem pembayaran e-dinar dan intergrasinya terhadap pasar-elektronik yang ada dan pengembangan sistem e-qirad baru untuk mendanai dan merangsang perdagangan. Implementasi zahir dari pasar terbuka, karavan dan paguyuban sebagai pembaharuan dari proses produksi akan mengikuti kemudian. Garis bawah: Jumlah pengguna Dinar Islam akan menjadi Blok Perdagangan Islam secara de facto.
Persatuan Moneter atau Layanan Moneter?
Bagaimana dunia mempergunakan Dinar Islam? Bagaimana kita harus melibatkan negeri Muslim lainnya? Haruskah kita mengikuti jalur politik dari Persatuan Moneter seperti halnya Euro atau haruskah kita membangun suatu layanan moneter dengan pengembangan fungsi yang beriringan dengan mata wang yang ada saat ini? Kita yakin bahawa proses politik dari persatuan moneter merupakan proses yang bertumpu pada bermacam-macam wang kertas yang saat ini beredar di negeri-negeri Muslim menjadi satu mata wang, kalaupun memungkinkan, panjang dan penuh masalah. Lebih jauh lagi, ketika mempertimbangkan perbedaan politik dan ekonomi antara negara Muslim yang berbeza, tampaknya sangat tidak memungkinkan bila mereka akan bersatu dengan cara ini. Pada sisi lain, disebabkan nilai intrinsik dari Dinar emas dan Dirham perak, yang sangat diterima sebagai alat tukar akan melampaui perasmian undang-undang dari institusi kenegaraan.Emas sebagai Komoditi Emas dan perak, tidak seperti wang kertas, tidak tergantung pada jaminan pihak ketiga. Memiliki nilai sebagai zat mereka sendiri sebagai komoditi, dan seperti komoditi lainnya, memiliki nilai intrinsik sebagaimana nilainya sebagai mata wang. Oleh kerana itu menjadi penting untuk difahami bahawa syiling emas selalu bernilai meskipun hanya meliputi sejumlah kecil pengguna moneter. Pengupayaan penyatuan wang kertas, meskipun seluruh negeri Muslim turut serta dalam pelaksanaannya, proses ini sangatlah sulit dan kusut, bahkan tidak mungkin. Alasannya adalah agar dapat berjalan, wang kertas teoritis tersebut harus dapat bersaing terhadap USD. Hanya Dinar Islam saja yang memiliki kemampuan seperti itu, terlepas dari jumlah awal yang menggunakannya. Sebagai tambahan, perbezaan ekonomi antara negeri muslim sangatlah besar sehingga proses yang diperlukan dalam pengintegrasiannya akan memperlemah mata wang yang lebih kuat tanpa memperkuat sama sekali mata wang yang lebih lemah. Sebagai contoh menarik adalah kegagalan Euro untuk diintegrasikan terhadap GBP dan mata wang Eropah yang lain seperti Krona Sweden, tanpa mengikutkan jumlah beban biaya yang harus ditanggung dalam penggabungan mata wang ini, dalam hubungan penyusutan mata wang nasional lebih dari 20% dan biaya sebenar implementasi, yang mencapai nilai 100 trilion Euro. Proses politik mendirikan mata wang Muslim baru akan mengakibatkan beban yang sangat berat --yang tidak mungkin ditanggung-- oleh negeri-negeri Muslim. Pada sisi lain untuk memilih penggunaan syiling emas dan perak oleh masyarakat merupakan upaya yang jujur, aman, rendah-biaya dan rendah-risiko untuk memulai penyatuan negeri-negeri Muslim secara organik dan jalan evolusi melalui pembentukan alat tukar Universal yang seiring dengan cara pembayaran yang ada. Kita juga yakin bahawa model terbaik untuk mewujudkan kembalinya Dinar Islam adalah dengan mendirikan layanan moneter yang dapat dikembangkan yang seiring dengan sistem mata wang yang sedia ada. Layanan moneter tersebut harus mudah dan bebas tersedia bagi siapapun yang mencari alternatif dari sistem-moneter berasas-kertas serbaguna.
Khamis, 12 Julai 2007
PAS Currency Proposal Stirs Debate in Malaysia
As Far As Your Eyes Can See
IslamOnline.net & News Agencies
Husam Musa would meet Abdullah to explain in detail the proposal so that the federal government would understand it.
KUALA LUMPUR – A proposal by the Pan-Malaysia Islamic Party (PAS) to introduce the dinar and dirham currencies in the northern state of Kelantan has stirred debate in the Muslim Asian heavyweight.
Premier Abdullah Badawi, currently attending the World Economic Forum (WEF) in Egypt, has criticized the plans, reported the official Bernama news agency.
He asserted that the state governments were not allowed to issue their own currency.
Husam Musa, a senior PAS official, said Sunday, May 21, the Kelantan government would introduce the gold and silver coins within three months.
"The state government employees can choose either to be paid in dinars or ringgit," he added.
Husam, the state's Public Administration, Economic Planning, Finance and Community Development Committee Chairman, stressed the dinar and dirham would not be made the state's official currency.
The dinar measures 4.25 grams of gold, while the dirham is 3.0 grams of pure silver.
Not New
The PAS announced Monday Husam would meet Abdullah to explain in detail the proposal so that the federal government would understand it.
"We will explain our proposal and God willing, we will not violate regulations," Husam said.
The chief minister of the state government of Kelantan also sought to defuse the crisis.
"This is just an idea," Nik Abdul Aziz Nik Mat told reporters after opening a discussion at a seminar on economy, finance and Islamic banking Monday.
"We have no problems in discussing the matter," he added.
He also said that the proposed was not new because the matter had been discussed by former prime minister Mahathir Mohamad while he was still in office.
PAS has controlled Kelantan since 1990 but it suffered a drubbing in the 2004 elections, coming within a whisker of losing to Badawi's UMNO-led National Front.
PAS clung on to the state assembly with 24 seats against the ruling coalition's 21.
It now has a majority of just one seat, which will make it hard to rule effectively and pass legislation.
Malaysia offers the image of a model Muslim country, heading towards the status of developed nation with huge buildings, beautiful cities and a fast track economy.
Abdullah launched on Friday, March 31, an ambitious development plan for Malaysia to become the first developed Muslim nation by 2020
IslamOnline.net & News Agencies
Husam Musa would meet Abdullah to explain in detail the proposal so that the federal government would understand it.
KUALA LUMPUR – A proposal by the Pan-Malaysia Islamic Party (PAS) to introduce the dinar and dirham currencies in the northern state of Kelantan has stirred debate in the Muslim Asian heavyweight.
Premier Abdullah Badawi, currently attending the World Economic Forum (WEF) in Egypt, has criticized the plans, reported the official Bernama news agency.
He asserted that the state governments were not allowed to issue their own currency.
Husam Musa, a senior PAS official, said Sunday, May 21, the Kelantan government would introduce the gold and silver coins within three months.
"The state government employees can choose either to be paid in dinars or ringgit," he added.
Husam, the state's Public Administration, Economic Planning, Finance and Community Development Committee Chairman, stressed the dinar and dirham would not be made the state's official currency.
The dinar measures 4.25 grams of gold, while the dirham is 3.0 grams of pure silver.
Not New
The PAS announced Monday Husam would meet Abdullah to explain in detail the proposal so that the federal government would understand it.
"We will explain our proposal and God willing, we will not violate regulations," Husam said.
The chief minister of the state government of Kelantan also sought to defuse the crisis.
"This is just an idea," Nik Abdul Aziz Nik Mat told reporters after opening a discussion at a seminar on economy, finance and Islamic banking Monday.
"We have no problems in discussing the matter," he added.
He also said that the proposed was not new because the matter had been discussed by former prime minister Mahathir Mohamad while he was still in office.
PAS has controlled Kelantan since 1990 but it suffered a drubbing in the 2004 elections, coming within a whisker of losing to Badawi's UMNO-led National Front.
PAS clung on to the state assembly with 24 seats against the ruling coalition's 21.
It now has a majority of just one seat, which will make it hard to rule effectively and pass legislation.
Malaysia offers the image of a model Muslim country, heading towards the status of developed nation with huge buildings, beautiful cities and a fast track economy.
Abdullah launched on Friday, March 31, an ambitious development plan for Malaysia to become the first developed Muslim nation by 2020
Selasa, 3 Julai 2007
Sejarah Singkat Dinar Dirham
oleh Ribat Jakarta
Abu Bakr ibn Abi Maryam meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah salallaahu 'alayhi wasallam bersabda, "Masanya akan tiba pada umat manusia, ketika tidak ada apapun yang berguna selain dinar dan dirham." (Masnad Imam Ahmad Ibn Hanbal).
Kepingan Logam Muslim Pertama
Pada awalnya kaum Muslimin menggunakan emas dan perak berdasarkan beratnya dan Dinar-Dirham yang digunakan merupakan tiruan dari bangsa Parsi di masa pemerintahan Yezdigird III raja dinasti Sassan, yang dicetak di masa Khalifah 'Usman, radiallahu anhu. Yang membezakan dengan syiling aslinya adalah adanya tulisan Arab yang berlafazkan "Bismillah". Sejak dari itu tulisan "Bismillah" dan bahagian dari Al Qur'an menjadi suatu hal yang lazim ditemukan pada syiling yang dicetak oleh kaum Muslimin. Siri yang diterbitkan berikutnya, berdasarkan Drachma Khusru II, yang kepingannya kemungkinan mewakili sebahagian besar wang yang beredar. Bersamaan dengan kepingan Sassan yang dicetak bangsa Arab dengan jenis Khusru terbaru yang pertama kali diterbitkan dibawah kepemimpinan Khulafa'urrasyidin, dalam perkembangan selanjutnya lebih banyak lagi kepingan versi cetakan nama Khusru diganti dengan nama pemerintah Arab setempat atau terdapat nama Khalifah. Bukti sejarah menunjukkan bahawa kebanyakan kepingan ini bertarikh Hijrah. Kepingan tembaga Muslim tertua tidak dibubuhi nama pencetak dan tarikh, tapi ada siri yang kemungkinan telah diterbitkan semasa kekhalifahan 'Usman atau 'Ali, radiallahu anhuma. Kepingan ini merupakan tiruan tidak sempurna dari bentuk kepingan Romawi timur 12-nummi yang dicetak oleh Heraclius dari Alexandria.
Piawai dari syiling yang ditentukan oleh Khalifah Umar ibn al-Khattab, berat dari 10 Dirham adalah setara dengan 7 Dinar (1 mithqal). Pada tahun 75 Hijrah (695 Masehi) Khalifah Abdalmalik memerintahkan Al-Hajjaj untuk mencetak Dirham untuk pertama kalinya, dan secara rasmi beliau menggunakan piawai yang ditentukan oleh Khalifah Umar ibn Khattab. Khalifah Abdalmalik memerintahkan bahawa pada tiap syiling yang dicetak terdapat tulisan: "Allahu ahad, Allahus samad". Beliau juga memerintahkan penghentian cetakan dengan gambar wujud manusia dan binatang dari syiling dan menggantinya dengan huruf-huruf.
Perintah ini diteruskan sepanjang sejarah Islam. Dinar dan Dirham biasanya berbentuk bundar, dan tulisan yang dicetak diatasnya memiliki tata letak yang melingkar. Lazimnya di satu sisi terdapat kalimat "tahlil" dan "tahmid", iaitu, "La ilaha ill'Allah" dan "Alhamdulillah" sedangkan pada sisi lainnya terdapat nama Amir dan tarikh pencetakan; dan pada masa masa selanjutnya menjadi suatu kelaziman juga untuk menuliskan selawat kepada Rasulullah, salallahu alayhi wa salam, dan terkadang, ayat-ayat Qur'an.
Syiling emas dan perak menjadi mata wang rasmi hingga jatuhnya kekhalifahan. Sejak saat itu, lusinan mata wang dari beberapa negara dicetak di setiap negara era pasca kolonialisme di mana negara-negara tersebut merupakan pecahan dari Dar-ul Islam.
Sejarah telah membuktikan berulang kali bahawa wang kertas telah menjadi alat penghancur dan menjadi alat untuk melenyapkan kekayaan umat Islam. Perlu diingat bahawa Hukum Syariah Islam tidak pernah mengizinkan penggunaan hutang ataupun surat janji pembayaran menjadi alat tukar yang sah
Apa Itu Dinar?
Berdasarkan Ketetapan yang di[utuskan oleh Sayyidina Umar Ibn Khattab, radiyallahu anhu,
Dinar emas memiliki kadar 22 karat emas (917) dengan berat 4.25 gram.
Dirham perak memiliki kadar perak murni dengan berat 3.0 gram.
Kalifah Umar ibn al-Khattab menentukan standard antara keduanya berdasarkan beratnya masing-masing: "(Berat) 7 dinar harus setara dengan 10 dirham."
"Wahyu menyatakan mengenai dinar-dirham dan banyak sekali hukum hukum yang terkait dengannya seperti zakat, pernikahan, hudud dan sebagainya. Sehinggakan dalam Wahyu dinar dirham memiliki tingkat realiti dan ukuran tertentu sebagai standard penghitungan (untuk Zakat dan sebagainya) di mana sebuah keputusan dapat diukurkan kepadanya dibandingkan dengan mata wang lainnya.
Telah menjadi ijma' ulama sejak awal Islam dan pada masa para Sahabat dan Tabi'in bahawa Dirham menurut syari'ah adalah 10 dirham setara dengan 7 mithqal (dinar) emas ... Berat dari satu mithqal emas setara dengan 72 butir gandum, maka dirham yang tujuh-per-sepuluh darinya adalah 50 dirham dan dua-per-lima butiran gandum. Semua ukuran ini merupakan hasil ijma'."
Apakah kegunaan Dinar Islam?
• Dapat digunakan sebagai simpanan
• Dapat digunakan sebagai pembayar zakat dan mas kahwin sebagaimana telah disyaratkan oleh Syari'ah Islam.
• Dapat digunakan untuk perniagaan sebagai alat tukar yang sah.
Penggunaan Dinar & Dirham
Emas dan perak merupakan alat tukar paling seimbang yang pernah dikenal oleh dunia. Sejak awal sejarah Islam sampai saat ini, nilai dari mata wang Islam yang didasari oleh mata wang bimetal ini secara mengejutkan sangat seimbang jika dihubungkan dengan bahan makanan asasi:
Harga seekor ayam pada masa Rasulullah, salla'llahu alaihi wa sallam, adalah satu dirham; saat ini, 1,400 tahun kemudian, harga seekor ayam tetaplah satu dirham.
Selama 1,400 tahun nilai inflasinya adalah nil.
Dapatkah kita melihat hal yang sama terhadap dollar atau mata wang lainnya selama 25 tahun terakhir ini?
Terbukti bahkan untuk jangka panjang, sistem mata wang bi-metal terbukti menjadi mata wang yang paling seimbang. Ia tetap bertahan, di samping usaha dari berbagai pemerintahan untuk mengubahnya menjadi mata wang simbolik yang diwakilkan oleh nilai nominal yang berbeza dengan berat yang dimilikinya.
Keunggulan
Wang emas tidak akan mengalami inflasi hanya kerana dicetak secara terus menerus; ia tidak akan dapat dilenyapkan oleh sebuah peraturan pemerintah, dan tidak seperti mata wang negara, wang emas merupakan sebuah aset yang tidak tergantung kepada janji sesiapa pun untuk membayar nilai nominalnya.
Ketelusan dan tingkat kerahsiaan dari emas adalah nilai tambah yang penting, akan tetapi lebih daripada itu sebuah fakta yang tidak terelakkan adalah emas merupakan aset nyata dan bukan merupakan hutang.
Semua jenis aset kertas, seperti surat hutang, saham, dan bahkan deposit bank merupakan pernyataan janji hutang yang akan dibayarkan. Nilainya sangat bergantung kepada kepercayaan penanam modal bahawa janji tersebut akan dipenuhi. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh surat hutang sampah dan mata wang Peso Mexico, janji yang meragukan akan segera kehilangan nilainya. Emas tidaklah seperti itu. Sebentuk emas bebas dari semua bentuk sistem kewangan, dan nilainya telah dibuktikan selama 5,000 tahun sejarah manusia.
Menunaikan Zakat
Zakat tidak dapat dibayarkan dengan menggunakan hutang mahupun surat janji pembayaran.
Zakat hanya dapat dibayarkan dengan menggunakan barang yang memiliki nilai yang nyata, yang dalam bahasa Arab disebut sebagai 'Ain . Zakat tidak dapat dibayarkan dengan menggunakan janji pembayaran atau hutang, yang dalam bahasa Arab disebut sebagai Dayn .
Sejak awal lagi, zakat dibayar dengan menggunakan Dinar dan Dirham. Sebuah bukti nyata bahawa pada sepanjang zaman Dinasti Othmaniah hingga jatuhnya Khalifah, zakat tidak pernah diperkenankan dibayar dengan menggunakan wang kertas.
Shaykh Muhammad 'Illaysh (1802-1881), seorang Qadi Maliki yang terkemuka, berkata bahawa jika anda ingin membayar zakat dengan menggunakan wang kertas, maka anda harus membayarnya sesuai dengan nilainya sebagai benda ('Ayn), yang ertinya nilai dari kertas itu sendiri. Maka dari itu, nilai nominal dari kertas itu tidak diperkenankan sebagai alat pembayar zakat.
"Jika zakat menjadi wajib, apapun bendanya, akan dihitung/dinisab berdasarkan sifat dan jumlahnya, bukan berdasarkan nilainya, seperti yang terjadi pada perak, emas, biji-bijian, dan buah. Apabila sifat dari benda tersebut tidak memiliki keutamaan dalam hal zakat, maka benda tersebut akan diperlakukan sebagaimana halnya tembaga, besi atau yang sejenisnya."
Tata cara pembayaran zakat telah dijelaskan dan diatur secara sempurna dalam tata cara hukum Islam. Selama berabad-abad, ketika Syari'ah Islam ditegakkan oleh seorang Khalifah atau seorang Amir, zakat selalu dibayarkan dengan menggunakan emas dan perak. Ketika wang kertas pertama kali diperkenalkan, pada abad-abad akhir oleh kekuatan kolonialisme, para ulama tradisional menolak kehadirannya kerana sifatnya yang bertentangan dengan Syari'ah Islam.
Menurut pandangan para ulama tersebut, wang kertas hanya dapat dilihat sebagai fulus yang berada dalam kategori mata wang rendah yang hanya dapat digunakan sebagai pecahan mata wang kecil. Sebagai contohnya, tidak diizinkan untuk menggunakan fulus dalam perjanjian qirad . Termasuk ke dalam golongan ulama tersebut, terdapat seorang alim terkemuka keturunan daerah maghribi, Shaykh Muhammad 'Illyash yang merupakan Shaykh dari para Shaykh fiqih Maliki di Universiti Al Azhar Mesir. Beliau menulis dalam Fatwanya:
'Saya ditanya mengenai penilaian saya terhadap Segel Sultan (sejenis wang kertas yang digunakan pada zaman Kekhalifahan Osmanli) yang beredar sebagai pengganti dinar dan dirham. Apakah Zakat wajib atasnya, sebagaimana yang terjadi pada emas, perak dan barang dagangan, atau tidak?'
Saya menjawab:
"Segala puji bagi Allah dan rahmat dan kedamaian bagi Junjungan kami, Sayyidina Muhammad, Rasulullah."
"Tidak ada zakat yang dibayar ke atasnya, sebagaimana zakat diwajibkan atas haiwan ternakan, beberapa jenis biji-bijian dan buah-buahan, emas, perak, nilai dari pendapatan dagangan dan barang simpanan. Barang yang disebutkan di atas (Segel Sultan) tidak termasuk ke dalam kategori tersebut."
"Engkau akan melihat amal dari penjelasan mengenai hal ini pada syiling tembaga atau fulus yang dicetak dan diberi segel Sultan yang ada dalam peredaran, di mana tidak ada zakat yang dibayarkan atasnya, kerana tidak termasuk ke dalam kategori yang wajib untuk dizakatkan. Sebagaimana tercantum dalam kitab Mudawwana: 'Barangsiapa yang memiliki syiling receh (fulus) senilai 200 dirham dalam satu tahun, tidak diwajibkan zakat atasnya, kecuali ia merupakan barang dagangan. Maka, si pemilik harus melihat nilai syiling tersebut sebagaimana nilai barang dagangan.'"
"Dalam kitab 'Al-Tiraz', disebutkan Abu Hanifa dan Asy-Syafi'i menyatakan dengan tegas pembayaran zakat atas syiling receh, kerana keduanya mempertimbangkan pentingnya membayar zakat atas nilainya, disebutkan juga bahawa terdapat dua perbezaan dalam pendapat Asy Syafi'i, ia menyatakan bahawa sikap mazhab yang menyatakan tidak mewajibkan zakat atas syiling receh, tidak ada perbezaan pula bahawa syiling receh dilihat dari nilainya, bukan dari berat dan jumlahnya. Jika zakat menjadi wajib, apapun bendanya, akan dihitung/dinisab berdasarkan sifat dan jumlahnya, bukan berdasarkan nilainya, seperti yang terjadi pada perak, emas, biji-bijian, dan buah. Apabila sifat dari benda tersebut tidak memiliki keutamaan dalam hal zakat, maka benda tersebut akan diperlakukan sebagaimana halnya tembaga, besi atau yang sejenisnya."
"Dan Allah, segenap puji dan sembah bagiNya, Maha Bijaksana. Semoga Allah memberkati dan memberikan kedamaian bagi junjungan kita, Nabi Muhammad beserta seluruh keluarganya."
(Diterjemahkan dari kitab 'Al-fath Al'Ali Al-Maliki', hal. 164-165)
Fatwa ini menyatakan bahawa wang kertas adalah fulus karena wang kertas hanya mewakili nilai nominal wang dan tidak memiliki nilai dagang. Maka dari itu, zakat tidak dapat dibayar dengan menggunakan wang kertas yang tiada nilainya sebagai kertas adalah nil. Saat penggunaan Dinar dan Dirham sebagai alat pembayaran zakat ditegakkan kembali, maka jutaan syiling emas dan perak akan kembali hadir dalam kegiatan perniagaan sehari-hari.
Abu Bakr ibn Abi Maryam meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah salallaahu 'alayhi wasallam bersabda, "Masanya akan tiba pada umat manusia, ketika tidak ada apapun yang berguna selain dinar dan dirham." (Masnad Imam Ahmad Ibn Hanbal).
Kepingan Logam Muslim Pertama
Pada awalnya kaum Muslimin menggunakan emas dan perak berdasarkan beratnya dan Dinar-Dirham yang digunakan merupakan tiruan dari bangsa Parsi di masa pemerintahan Yezdigird III raja dinasti Sassan, yang dicetak di masa Khalifah 'Usman, radiallahu anhu. Yang membezakan dengan syiling aslinya adalah adanya tulisan Arab yang berlafazkan "Bismillah". Sejak dari itu tulisan "Bismillah" dan bahagian dari Al Qur'an menjadi suatu hal yang lazim ditemukan pada syiling yang dicetak oleh kaum Muslimin. Siri yang diterbitkan berikutnya, berdasarkan Drachma Khusru II, yang kepingannya kemungkinan mewakili sebahagian besar wang yang beredar. Bersamaan dengan kepingan Sassan yang dicetak bangsa Arab dengan jenis Khusru terbaru yang pertama kali diterbitkan dibawah kepemimpinan Khulafa'urrasyidin, dalam perkembangan selanjutnya lebih banyak lagi kepingan versi cetakan nama Khusru diganti dengan nama pemerintah Arab setempat atau terdapat nama Khalifah. Bukti sejarah menunjukkan bahawa kebanyakan kepingan ini bertarikh Hijrah. Kepingan tembaga Muslim tertua tidak dibubuhi nama pencetak dan tarikh, tapi ada siri yang kemungkinan telah diterbitkan semasa kekhalifahan 'Usman atau 'Ali, radiallahu anhuma. Kepingan ini merupakan tiruan tidak sempurna dari bentuk kepingan Romawi timur 12-nummi yang dicetak oleh Heraclius dari Alexandria.
Piawai dari syiling yang ditentukan oleh Khalifah Umar ibn al-Khattab, berat dari 10 Dirham adalah setara dengan 7 Dinar (1 mithqal). Pada tahun 75 Hijrah (695 Masehi) Khalifah Abdalmalik memerintahkan Al-Hajjaj untuk mencetak Dirham untuk pertama kalinya, dan secara rasmi beliau menggunakan piawai yang ditentukan oleh Khalifah Umar ibn Khattab. Khalifah Abdalmalik memerintahkan bahawa pada tiap syiling yang dicetak terdapat tulisan: "Allahu ahad, Allahus samad". Beliau juga memerintahkan penghentian cetakan dengan gambar wujud manusia dan binatang dari syiling dan menggantinya dengan huruf-huruf.
Perintah ini diteruskan sepanjang sejarah Islam. Dinar dan Dirham biasanya berbentuk bundar, dan tulisan yang dicetak diatasnya memiliki tata letak yang melingkar. Lazimnya di satu sisi terdapat kalimat "tahlil" dan "tahmid", iaitu, "La ilaha ill'Allah" dan "Alhamdulillah" sedangkan pada sisi lainnya terdapat nama Amir dan tarikh pencetakan; dan pada masa masa selanjutnya menjadi suatu kelaziman juga untuk menuliskan selawat kepada Rasulullah, salallahu alayhi wa salam, dan terkadang, ayat-ayat Qur'an.
Syiling emas dan perak menjadi mata wang rasmi hingga jatuhnya kekhalifahan. Sejak saat itu, lusinan mata wang dari beberapa negara dicetak di setiap negara era pasca kolonialisme di mana negara-negara tersebut merupakan pecahan dari Dar-ul Islam.
Sejarah telah membuktikan berulang kali bahawa wang kertas telah menjadi alat penghancur dan menjadi alat untuk melenyapkan kekayaan umat Islam. Perlu diingat bahawa Hukum Syariah Islam tidak pernah mengizinkan penggunaan hutang ataupun surat janji pembayaran menjadi alat tukar yang sah
Apa Itu Dinar?
Berdasarkan Ketetapan yang di[utuskan oleh Sayyidina Umar Ibn Khattab, radiyallahu anhu,
Dinar emas memiliki kadar 22 karat emas (917) dengan berat 4.25 gram.
Dirham perak memiliki kadar perak murni dengan berat 3.0 gram.
Kalifah Umar ibn al-Khattab menentukan standard antara keduanya berdasarkan beratnya masing-masing: "(Berat) 7 dinar harus setara dengan 10 dirham."
"Wahyu menyatakan mengenai dinar-dirham dan banyak sekali hukum hukum yang terkait dengannya seperti zakat, pernikahan, hudud dan sebagainya. Sehinggakan dalam Wahyu dinar dirham memiliki tingkat realiti dan ukuran tertentu sebagai standard penghitungan (untuk Zakat dan sebagainya) di mana sebuah keputusan dapat diukurkan kepadanya dibandingkan dengan mata wang lainnya.
Telah menjadi ijma' ulama sejak awal Islam dan pada masa para Sahabat dan Tabi'in bahawa Dirham menurut syari'ah adalah 10 dirham setara dengan 7 mithqal (dinar) emas ... Berat dari satu mithqal emas setara dengan 72 butir gandum, maka dirham yang tujuh-per-sepuluh darinya adalah 50 dirham dan dua-per-lima butiran gandum. Semua ukuran ini merupakan hasil ijma'."
Apakah kegunaan Dinar Islam?
• Dapat digunakan sebagai simpanan
• Dapat digunakan sebagai pembayar zakat dan mas kahwin sebagaimana telah disyaratkan oleh Syari'ah Islam.
• Dapat digunakan untuk perniagaan sebagai alat tukar yang sah.
Penggunaan Dinar & Dirham
Emas dan perak merupakan alat tukar paling seimbang yang pernah dikenal oleh dunia. Sejak awal sejarah Islam sampai saat ini, nilai dari mata wang Islam yang didasari oleh mata wang bimetal ini secara mengejutkan sangat seimbang jika dihubungkan dengan bahan makanan asasi:
Harga seekor ayam pada masa Rasulullah, salla'llahu alaihi wa sallam, adalah satu dirham; saat ini, 1,400 tahun kemudian, harga seekor ayam tetaplah satu dirham.
Selama 1,400 tahun nilai inflasinya adalah nil.
Dapatkah kita melihat hal yang sama terhadap dollar atau mata wang lainnya selama 25 tahun terakhir ini?
Terbukti bahkan untuk jangka panjang, sistem mata wang bi-metal terbukti menjadi mata wang yang paling seimbang. Ia tetap bertahan, di samping usaha dari berbagai pemerintahan untuk mengubahnya menjadi mata wang simbolik yang diwakilkan oleh nilai nominal yang berbeza dengan berat yang dimilikinya.
Keunggulan
Wang emas tidak akan mengalami inflasi hanya kerana dicetak secara terus menerus; ia tidak akan dapat dilenyapkan oleh sebuah peraturan pemerintah, dan tidak seperti mata wang negara, wang emas merupakan sebuah aset yang tidak tergantung kepada janji sesiapa pun untuk membayar nilai nominalnya.
Ketelusan dan tingkat kerahsiaan dari emas adalah nilai tambah yang penting, akan tetapi lebih daripada itu sebuah fakta yang tidak terelakkan adalah emas merupakan aset nyata dan bukan merupakan hutang.
Semua jenis aset kertas, seperti surat hutang, saham, dan bahkan deposit bank merupakan pernyataan janji hutang yang akan dibayarkan. Nilainya sangat bergantung kepada kepercayaan penanam modal bahawa janji tersebut akan dipenuhi. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh surat hutang sampah dan mata wang Peso Mexico, janji yang meragukan akan segera kehilangan nilainya. Emas tidaklah seperti itu. Sebentuk emas bebas dari semua bentuk sistem kewangan, dan nilainya telah dibuktikan selama 5,000 tahun sejarah manusia.
Menunaikan Zakat
Zakat tidak dapat dibayarkan dengan menggunakan hutang mahupun surat janji pembayaran.
Zakat hanya dapat dibayarkan dengan menggunakan barang yang memiliki nilai yang nyata, yang dalam bahasa Arab disebut sebagai 'Ain . Zakat tidak dapat dibayarkan dengan menggunakan janji pembayaran atau hutang, yang dalam bahasa Arab disebut sebagai Dayn .
Sejak awal lagi, zakat dibayar dengan menggunakan Dinar dan Dirham. Sebuah bukti nyata bahawa pada sepanjang zaman Dinasti Othmaniah hingga jatuhnya Khalifah, zakat tidak pernah diperkenankan dibayar dengan menggunakan wang kertas.
Shaykh Muhammad 'Illaysh (1802-1881), seorang Qadi Maliki yang terkemuka, berkata bahawa jika anda ingin membayar zakat dengan menggunakan wang kertas, maka anda harus membayarnya sesuai dengan nilainya sebagai benda ('Ayn), yang ertinya nilai dari kertas itu sendiri. Maka dari itu, nilai nominal dari kertas itu tidak diperkenankan sebagai alat pembayar zakat.
"Jika zakat menjadi wajib, apapun bendanya, akan dihitung/dinisab berdasarkan sifat dan jumlahnya, bukan berdasarkan nilainya, seperti yang terjadi pada perak, emas, biji-bijian, dan buah. Apabila sifat dari benda tersebut tidak memiliki keutamaan dalam hal zakat, maka benda tersebut akan diperlakukan sebagaimana halnya tembaga, besi atau yang sejenisnya."
Tata cara pembayaran zakat telah dijelaskan dan diatur secara sempurna dalam tata cara hukum Islam. Selama berabad-abad, ketika Syari'ah Islam ditegakkan oleh seorang Khalifah atau seorang Amir, zakat selalu dibayarkan dengan menggunakan emas dan perak. Ketika wang kertas pertama kali diperkenalkan, pada abad-abad akhir oleh kekuatan kolonialisme, para ulama tradisional menolak kehadirannya kerana sifatnya yang bertentangan dengan Syari'ah Islam.
Menurut pandangan para ulama tersebut, wang kertas hanya dapat dilihat sebagai fulus yang berada dalam kategori mata wang rendah yang hanya dapat digunakan sebagai pecahan mata wang kecil. Sebagai contohnya, tidak diizinkan untuk menggunakan fulus dalam perjanjian qirad . Termasuk ke dalam golongan ulama tersebut, terdapat seorang alim terkemuka keturunan daerah maghribi, Shaykh Muhammad 'Illyash yang merupakan Shaykh dari para Shaykh fiqih Maliki di Universiti Al Azhar Mesir. Beliau menulis dalam Fatwanya:
'Saya ditanya mengenai penilaian saya terhadap Segel Sultan (sejenis wang kertas yang digunakan pada zaman Kekhalifahan Osmanli) yang beredar sebagai pengganti dinar dan dirham. Apakah Zakat wajib atasnya, sebagaimana yang terjadi pada emas, perak dan barang dagangan, atau tidak?'
Saya menjawab:
"Segala puji bagi Allah dan rahmat dan kedamaian bagi Junjungan kami, Sayyidina Muhammad, Rasulullah."
"Tidak ada zakat yang dibayar ke atasnya, sebagaimana zakat diwajibkan atas haiwan ternakan, beberapa jenis biji-bijian dan buah-buahan, emas, perak, nilai dari pendapatan dagangan dan barang simpanan. Barang yang disebutkan di atas (Segel Sultan) tidak termasuk ke dalam kategori tersebut."
"Engkau akan melihat amal dari penjelasan mengenai hal ini pada syiling tembaga atau fulus yang dicetak dan diberi segel Sultan yang ada dalam peredaran, di mana tidak ada zakat yang dibayarkan atasnya, kerana tidak termasuk ke dalam kategori yang wajib untuk dizakatkan. Sebagaimana tercantum dalam kitab Mudawwana: 'Barangsiapa yang memiliki syiling receh (fulus) senilai 200 dirham dalam satu tahun, tidak diwajibkan zakat atasnya, kecuali ia merupakan barang dagangan. Maka, si pemilik harus melihat nilai syiling tersebut sebagaimana nilai barang dagangan.'"
"Dalam kitab 'Al-Tiraz', disebutkan Abu Hanifa dan Asy-Syafi'i menyatakan dengan tegas pembayaran zakat atas syiling receh, kerana keduanya mempertimbangkan pentingnya membayar zakat atas nilainya, disebutkan juga bahawa terdapat dua perbezaan dalam pendapat Asy Syafi'i, ia menyatakan bahawa sikap mazhab yang menyatakan tidak mewajibkan zakat atas syiling receh, tidak ada perbezaan pula bahawa syiling receh dilihat dari nilainya, bukan dari berat dan jumlahnya. Jika zakat menjadi wajib, apapun bendanya, akan dihitung/dinisab berdasarkan sifat dan jumlahnya, bukan berdasarkan nilainya, seperti yang terjadi pada perak, emas, biji-bijian, dan buah. Apabila sifat dari benda tersebut tidak memiliki keutamaan dalam hal zakat, maka benda tersebut akan diperlakukan sebagaimana halnya tembaga, besi atau yang sejenisnya."
"Dan Allah, segenap puji dan sembah bagiNya, Maha Bijaksana. Semoga Allah memberkati dan memberikan kedamaian bagi junjungan kita, Nabi Muhammad beserta seluruh keluarganya."
(Diterjemahkan dari kitab 'Al-fath Al'Ali Al-Maliki', hal. 164-165)
Fatwa ini menyatakan bahawa wang kertas adalah fulus karena wang kertas hanya mewakili nilai nominal wang dan tidak memiliki nilai dagang. Maka dari itu, zakat tidak dapat dibayar dengan menggunakan wang kertas yang tiada nilainya sebagai kertas adalah nil. Saat penggunaan Dinar dan Dirham sebagai alat pembayaran zakat ditegakkan kembali, maka jutaan syiling emas dan perak akan kembali hadir dalam kegiatan perniagaan sehari-hari.
Every 10 cent You Donate Is Helping!
Dermakan setiap 10 sen yang anda miliki!
Muslim Refugees Of South Thailand. Help Support Our Refugees. Need support from the kindness of your heart. May God Bless You.
Pelarian Muslim Dari Selatan Thai.Bantulah pelarian kami. Perlukan bantuan setulus ikhlas dari anda. Semoga Allah Memberkati Anda.
Please Refer To The Account Below, Thank You:
Maybank Account # :
11408 5885 217
Abdul Raihan Bin Abdul Rahman




